Finance

Gampang Banget! Tips Atasi Compulsive Spending Tanpa Drama

Posted by Editor

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi compulsive spending misalnya dengan membuat daftar belanja, memahami konsep kebutuhan produktif dan konsumtif, serta mengalihkan kebiasaan belanja dengan cara sehat untuk meredakan stres. Selain itu, batasi penggunaan kartu kredit, tingkatkan investasi seperti investasi obligasi, minta bantuan orang terdekat, dan jika diperlukan, konsultasikan dengan psikolog atau psikiater.

Meskipun compulsive spending merupakan gangguan mental, tapi memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi finansial. Keadaan ini sangat berbahaya bagi kondisi finansial jika tidak segera teratasi. Pahami ciri-cirinya dan apa penyebabnya sehingga Anda bisa mendapatkan penanganan dengan tepat.

Ciri-ciri Compulsive Spending

Belanja memang menyenangkan apalagi jika Anda berhasil mendapatkan diskon yang besar. Namun Anda harus mulai waspada, jika mulai tidak terkontrol dalam berbelanja. Ini adalah tanda awal gangguan compulsive spending atau compulsive shopping. Untuk lebih mengenal penyakit ini, coba pahami ciri-ciri compulsive spending berikut ini:

  • Sangat sering berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  • Menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu informasi tentang barang yang didambakan dan belanja barang yang tidak dibutuhkan.
  • Sangat sulit untuk bilang “tidak” saat ingin belanja barang yang tidak penting.
  • Pada akhirnya kondisi finansial akan terganggu karena nafsu belanja yang tidak terkendali.
  • Merasa bahagia dan puas jika sudah berbelanja, meskipun yang dibeli bukan barang yang dibutuhkan.
  • Sering merasa bersalah setelah berbelanja, namun Anda tetap mengulanginya karena merasa jika belanja adalah obat stress.
  • Mengalami masalah komunikasi dengan lingkungan karena kebiasaan belanja yang berlebihan.

Apa Penyebab Compulsive Spending?

Penyebab utama masalah compulsive spending adalah masalah psikologis. Dari data dikatakan kurang lebih 1-6% populasi dunia mengalami masalah ini dan 90% diantaranya adalah wanita. Usia paling rentan mengalami masalah compulsive spending akan muncul pada usia rata-rata 30 tahun.

Namun masih banyak pendapat berbeda tentang pengaruh usia dengan kelainan compulsive spending ini. Selain jenis kelamin dan usia, kondisi yang bisa menyebabkan orang mengalami gangguan compulsive spending diyakini adanya gangguan neurologis.

Penelitian lain menyebutkan jika kondisi kelainan berbelanja ini erat hubungannya dengan kurangnya kasih sayang pada masa anak-anak, sehingga merasa kosong dalam hidupnya. Dampaknya adalah kurang percaya diri dan tidak bahagian, sehingga mengalihkan hal tersebut ke belanja agar merasa bahagia. Sikap ini kemudian dilakukan setiap kalo merasa stress atau sedih, sehingga seringkali belanja tanpa kontrol akal sehat.

Tips Mengatasi Compulsive Spending

https://www.freepik.com/free-photo/woman-with-shopping-bags-holding-smartphone_1316924.htm#fromView=search&page=2&position=2&uuid=90015e9a-a75a-4a4c-b6af-2679b2fbb754&query=shopping

Compulsive spending disorder sama saja seperti masalah kecanduan lainnya yang pada akhirnya dapat menimbulkan masalah serius, sehingga harus segera diatasi. Bukan hal yang mudah dilakukan, namun dengan tips di bawah ini Anda pasti bisa mengatasi compulsive disorder tanpa drama:

1.     Bedakan Kebutuhan Produktif dan Konsumtif

Salah satu ciri compulsive spender adalah membeli barang-barang tanpa tahu apa manfaatnya. Untuk itu hal yang harus dilakukan pertama kali adalah mulai memahami konsep kebutuhan produktif dan konsumtif. Anda harus memprioritaskan kebutuhan produktif dan kebutuhan primer terlebih dahulu sebelum barang-barang lainnya.

2.     Buat Daftar Belanja

Seseorang yang menderita compulsive spending tidak memiliki kontrol yang kuat akan dirinya saat berbelanja, sangat susah untuk bilang tidak pada diri sendiri ketika ingin membeli sesuatu. Oleh sebab itu Anda membutuhkan rambu-rambu atau batasan seperti daftar belanjaan yang akan menuntun Anda ketika mengambil barang belanjaan.

3.     Batasi Penggunaan Kartu Kredit

Terkadang membayar dengan cash akan merasa boros dibandingkan membayar dengan kartu kredit. Oleh sebab itu Anda harus menghindari penggunaan kartu kredit agar pengeluaran lebih terkontrol. Pembayaran dengan kartu atau pay later hanya akan menambah pengeluaran tanpa terasa.

4.     Tetapkan Anggaran dan Patuhi

Selanjutnya, agar masalah compulsive spending tidak semakin parah Anda bisa menetapkan patokan anggaran keuangan bulanan dan mematuhinya. Anda bisa membuat alokasi keuangan dengan rasio yang tetap dan harus dipatuhi. Dengan begitu akan dapat memberi batasan penggunaan uang untuk belanja hal tidak penting.

5.     Sisihkan Dana untuk Investasi di Awal

Jika Anda menerima pendapatan atau gaji, maka sisihkan di awal sebagian untuk investasi. Mengapa harus di awal? Hal ini untuk membatasi pengeluaran dan mematuhi anggaran yang telah dibuat agar uang tidak dihabiskan untuk belanja sehingga finansial tetap terjaga baik.

 

Memiliki target keuangan yang ingin dicapai di masa depan dapat membantu Anda dalam mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan. Sebab, pendapatan yang dimiliki akan lebih difokuskan untuk mencapai target atau tujuan yang diinginkan. Contoh, Anda ingin memiliki rumah, nah untuk mencapai ini caranya ya berhemat dan menabung atau alokasikan dana investasi di obligasi melalui Aplikasi digibank by DBS agar uang bertumbuh dan mendapatkan kupon/ imbal hasil secara rutin.

Yuk mulai investasi obligasi dengan modal kecil mulai Rp1 juta saja lewat Aplikasi digibank by DBS. Anda bisa melakukan transaksi jual dan beli obligasi pemerintah melalui Aplikasi yang terjamin aman.

Jika masih ragu, segera diskusikan saja tren terkini untuk finansial Anda. Dapatkan panduan finansial dari advisor ahli yang proaktif, notifikasi hingga kelas edukasi finansial yang akan membantu Anda bertumbuh. Dapatkan juga dukungan aplikasi digital perbankan terbaik, jadi tangkap momentum 24/7 dengan Aplikasi digibank by DBS. Dapatkan info lebih lanjut tentang investasi di sini.

 

 

 

 

 

 

Related Post